Keberadaan
sebuah organisasi sejak awal berdirinya hingga sekarang tidak terlepas dari
peran serta para tokohnya. Demikian pula halnya dengan PERSIS. Organisasi yang
pertama kali dibentuk oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus ini telah
melahirkan sejumlah tokoh besar. Mereka menjadi tumpuan umat dalam memahami
masalah agama.
Selain Ahmad
Hassan ( A Hassan ), salah seorang tokoh dan menjadi guru utama PERSIS,
organisasi Islam ini juga melahirkan tokoh lainnya, seperti Mohammad Natsir,
Mohammad Isa Anshary, KHE Abdurrahman, dan KH Abdul Latief Muchtar. Bagaimana
sosok dan kiprah mereka?
Mohammad
Natsir
Dilahirkan di
Kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, pada 17 Juli 1908. Ia
adalah putra pasangan Sutan Saripado-seorang pegawai pemerintah-dan Khadijah.
Ia pergi ke Bandung pada 1927 untuk melanjutkan studinya di AMS A-2 (setingkat
SMA sekarang).
Di Kota Kembang
ini, minat Natsir terhadap agama semakin berkembang. Karena itu, selama di
Bandung, Nastir berusaha memperdalam ilmu agamanya dengan mengikuti
pengajian-pengajian PERSIS yang disampaikan Ahmad Hassan.
Selain itu,
Natsir juga mengikuti pelajaran agama di kelas khusus yang diadakan oleh Ahmad
Hassan untuk anggota muda PERSIS yang sedang belajar di sekolah milik Pemerintah
Belanda. Bahkan, dengan inisiatif Natsir, PERSIS kemudian mendirikan berbagai
lembaga pendidikan, antara lain Pendidikan Islam ( Pendis ) dan Natsir sebagai
direkturnya ( 1932-1942 ) serta Pesantren Persatuan Islam pada 4 Maret 1936.
Keberadaan sekolah-sekolah
ini ditujukan untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan memperdalam
dan mampu mendakwahkan, mengajarkan, dan membela ajaran Islam. Natsir adalah
orang yang terlibat langsung dalam proses kaderisasi di bawah bimbingan Ahmad
Hassan.
Dengan demikian,
Natsir mempunyai hubungan yang dekat dengan PERSIS. Di bawah kepemimpinannya, PERSIS
menjelma menjadi organisasi yang bukan hanya berupa kelompok diskusi atau
pengajian tadarusan kelas pinggiran, melainkan sebuah organisasi Islam modern yang
potensial. Dalam waktu singkat, ia berhasil menempatkan PERSIS dalam barisan
organisasi Islam modern.
Mohammad
Isa Anshary
Masa setelah
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan periode kedua PERSIS
sesudah kepemimpinan KH Zamzam, KH Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Mohammad
Natsir yang mendengungkan slogan “Kembali kepada Alquran dan As-Sunnah”. Pada
periode kedua ini, salah seorang tokoh PERSIS yang pernah memimpin adalah KH
Mohammad Isa Anshary.
KH Mohammad Isa
Anshary lahir di Maninjau Sumatra Tengah pada 1 Juli 1916. Pada usia 16 tahun,
setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam di tempat kelahirannya,
ia merantau ke Bandung untuk mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum.
Di Bandung pula, ia memperluas cakrawala keislamannya dalam Jam’iyyah PERSIS
hingga menjadi ketua umum PERSIS.
Tampilnya Isa
Anshary sebagai pucuk pimpinan PERSIS dimulai pada 1940 ketika ia menjadi
anggota hoofbestuur ( Pusat Pimpinan ) PERSIS. Tahun 1948, ia
melakukan reorganisasi PERSIS yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan
Jepang dan Perang Kemerdekaan. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi
ketua umum Pusat Pimpinan PERSIS.
Selain sebagai
mubaligh, Isa Anshary juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Ia termasuk
salah seorang perancang Qanun Asasi PERSIS yang
telah diterima secara bulat oleh Muktamar V PERSIS ( 1953 ) dan disempurnakan
pada Muktamar VIII PERSIS ( 1967 ).
Dalam sikap
jihadnya, Isa Anshary menganggap perjuangan PERSIS sungguh vital dan kompleks
karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader,
Isa Anshary menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader
muda PERSIS.
Semangatnya
dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan
Orde Lama di Madiun. Kepada Yahya Wardi yang menjabat ketua umum Pimpinan Pusat
Pemuda PERSIS periode 1956-1962, Isa Anshary mengirimkan naskah “Renungan 40
Tahun Persatuan Islam” yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada
peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah PERSIS.
Melalui
tulisannya, Isa Anshary mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha
mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi PERSIS.
Semangat ini terus ia gelorakan hingga wafatnya pada 2 Syawal 1389 H yang
bertepatan dengan 11 Desember 1969.
KH. E. Abdurrahman
KH. Endang
Abdurrahman tampil sebagai sosok ulama rendah hati, berwibawa, dan berwawasan
luas. Dengan gaya kepemimpinan yang luwes, ia telah membawa PERSIS pada garis
perjuangan yang berbeda: tampil low profile dengan pendekatan
persuasif edukatif, tanpa kesan keras, tetapi teguh dalam prinsip berdasarkan
Al-Quran dan Sunnah.
Abdurrahman dilahirkan
di Kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur, pada Rabu, 12 Juni
1912. Ia merupakan putra tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Ghazali,
seorang penjahit pakaian, dan ibunya bernama Hafsah, seorang perajin batik.
KH. Aburrahman dikenal
sebagai seorang ulama besar dan ahli hukum yang tawadhu. Ia lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab-kitab, mengajar di pesantren, dan
hampir setiap malam mengisi berbagai pengajian.
Sosok ulama PERSIS
yang satu ini, sebagaimana ditulis Fauzi Nur Wahid dalam bukunya KH Abdurrahman: Peranannya dalam Organisasi Persatuan Islam, semula memiliki
pemahaman keagamaan yang bersifat tradisional. Namun, pada kemudian hari, ia
beralih menjadi ulama yang berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah serta
menentang berbagai ibadah, khurafat, dan takhayul.
Pada masa
kepemimpinannya, banyak persoalan mendasar yang dihadapi PERSIS. Di antaranya,
bagaimana mempertahankan eksistensi PERSIS di tengah gejolak sosial politik
yang tidak menentu. Jihad perjuangan PERSIS dihadapkan pada masalah-masalah
politik yang beragam.
Selain itu, PERSIS
juga berhadapan dengan aliran-aliran yang dianggap menyesatkan umat Islam.
Untuk menghadapi aliran tersebut, ia memerintahkan para mubaligh PERSIS dan
organisasi yang ada di bawah PERSIS untuk terjun ke daerah-daerah secara rutin
dalam membimbing umat.
KH. Abdul Latief Muchtar
Dilahirkan di
Garut pada 7 Januari 1931 dari pasangan H Muchtar dan Hj Memeh. Sejak kecil, KH
Abdul Latief Muchtar sudah bersentuhan dengan PERSIS hingga akhirnya menjadi
ketua umum PERSIS, menggantikan KHE Abdurrahman yang wafat.
Jika PERSIS kini
tampak low profile, itu semua tidak lepas dari kepemimpinan KH
Abdul Latief. Pada masa kepemimpinannya, PERSIS berjuang menyesuaikan diri
dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis.
Pada masa awal
jabatannya sebagai ketua umum PERSIS, KH Abdul Latief dihadapkan pada
keguncangan jamaah PERSIS karena adanya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 yang
menuntut semua organisasi kemasyarakatan ( ormas ) di Indonesia mencantumkan
asas tunggal Pancasila sebagai asas dalam anggaran dasar organisasinya.
Persoalan asas tunggal ini dihadapi dengan visi dan pemikiran KH Latief yang
akomodatif. Ia mencoba menjembatani persoalan ini dengan baik.
Dalam bidang jam’iyyah (
organisasi ), KH Latief bertekad menjadikan organisasi PERSIS makin terbuka (
inklusif ). PERSIS harus mampu diterima semua kalangan, tanpa ada kelompok yang
merasa takut dengan keberadaannya.
KH Latief
bercita-cita mengembangkan objek dakwahnya ke lingkungan kampus. Baginya,
kampus adalah lembaga intelektual yang harus dirangkul dan diisi dengan materi
dakwah yang tepat. Karena itulah, ia mendukung sepenuhnya pembentukan
organisasi otonom mahasiswa PERSIS di berbagai perguruan tinggi dalam satu
wadah Himpunan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswi PERSIS.



