Menyambut Gerhana Matahari 2016 Dengan Shalat Kusuf

Oleh : Ruhiyat, M.Pd
Gerhana matahari total adalah fenomena alam yang langka. Sepanjang 115 tahun terakhir. Hanya sepuluh kali Indonesia dilintasi gerhana matahari total dan cuma sekali melewati Pulau Jawa.  Terakhir kali terjadi pada 24 Oktober 1995 dan baru ada lagi pada 9 Maret 2016.  Setelah 9 Maret 2016, gerhana matahari total baru akan melintasi Indonesia lagi pada 20 April 2023. Saat itu gerhana melintasi Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat.
Dalam kurun waktu 2017 hingga 2100 tercatat hanya ada lima gerhana matahari total melewati Indonesia.
Adapun jalur gerhana matahari total (bayangan umbra bulan) di Indonesia akan melewati Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangka Raya, Balik Papan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, Halmahera. Adapun wilayah yang terkena gerhana matahari sebagian (penumbra) yaitu Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makasar, Kupang, Manado dan Ambon. Kejadian gerhana sebagian untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya (Bogor) dimulai dari pukul 06.19 WIB, puncak gerhana pukul 07.21 WIB dan berakhir 08.31 WIB.
Peristiwa gerhana pun sebenarnya pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad (di Madinah) hanya satu kali ialah pada tahun ke sepuluh hijriyah, pada hari meninggalnya Ibrahim putra Nabi. Menurut perhitungan ahli hisab, itu terjadi pada tanggal 29 Syawal bertepatan dengan tanggal 27 Januari tahun 632 M pukul 08.30. Demikian menurut Muhammad Fasya al Falaqi dalam kitabnya, Nataij al Afham Fi Taqwim al ‘Arab Qabla al Islam (al Fathu ar Rabbani, 6:175).
Adapun yang dicontohkan oleh Nabi berkenaan dengan peristiwa gerhana ini dianjurkan untuk shadaqah, berdo’a, takbir dan shalat. Hal ini dijelaskan dalam hadits Bukhari Muslim, Nailul al-Authar, 3:379 “Dari ‘Aisyah r.a. Sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda : “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak akan terjadi gerhana disebabkan mati atau lahirnya seseorang. Maka apabila kamu melihat kejadian itu, berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, bershadaqahlah dan shalatlah”.
Adapun cara praktik shalat gerhana dijelaskan dalam beberapa hadits diantaranya, yaitu :
1.       Dari ‘Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW mengeraskan bacaannya dalam shalat gerhana. Nabi shalat dua raka’at dalam empat kali ruku dan empat kali sujud (H.R. Bukhari Muslim, Nailul al-Authar 3:376).
2.       Dari ‘Aisyah r.a. ia berkata : “Telah terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah SAW, kemudian Nabi menyuruh seorang muadzdzin (menyerukan); ASH-SHALAATU JAAMI’AH, lalu Nabi berdiri dan shalat dengan empat kali ruku dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (H.R. Bukhari Muslim; Nailu al-Authar, 3:369).
3.       Dari ‘Aisyah r.a. ia berkata : “Telah terjadi gerhana matahari pada masa hidup Nabi, lalu Nabi keluar ke masjid, kemudian berdiri, lalu takbir. Orang-orang berbaris di belakang Nabi, kemudian Nabi berdiri dan berkhutbah, Nabi memuji Allah –sebagaimana mestinya- lalu  Nabi bersabda : “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tak akan terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka bilamana kamu melihat gerhana, segeralah melaksanakan shalat.” (H.R. Bukhari Muslim, Nailu al-Authar, 3: 369).
Dari keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa jika terjadi gerhana, baik gerhana matahari atau gerhana bulan, dianjurkan untuk :
1.    Berdo’a kepada Allah dengan penuh rasa takut dan rasa harap.
2.   Bertakbir. Dan diantara lafazh takbir itu ialah sebagaimana dalam takbir ‘ied al-Fithri (ALLAAHU AKBARU, ALLAAHU AKBARU, LAA ILAAHA ILLA ALLAAHU WA ALLAAHU AKBARU ALLAAHU AKBARU WA LILLAAHI AL HAMDU).
3.    Bersedekah, karena diantara hikmah sedekah itu dapat menolak bencana.
4.    Melakukan shalat gerhana dan dilanjutkan dengan khutbah satu kali khutbah.
5.    Untuk memulai shalat, tidak ada qamat, tetapi dengan ucapan ASH SHALAATU JAAMI’AH.
6.   Hindari kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang sehubungan dengan kejadian gerhana, seperti memandikan orang yang sedang hamil (karena takut anaknya hitam) atau memukuli lisung (tempat menumbuk padi) dan lain-lain.  

Sumber bacaan :
1.  Alhidayah edisi kompilasi Pembahasan Perbedaan-perbedaan Pendapat dalam Fiqh beserta Pemecahannya, karangan A. Zakaria.

2.       http://news.detik.com/infografis/3117578/waktu-gerhana-matahari-sebagian-di-indonesia.