Oleh: Ust. Didin Rohaedin
Lima belas tahun yang lalu, pada saat acara pembagian
raport di pesantren, salah seorang wali santri bertanya kepada guru kami,
Ustadz Ali Abbad. Wali santri itu ialah Ir. H. Fadhloellah Moenawwar, anak
sulung KH. Moenawwar Chalil, penulis buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad
Saw. Adapun yang ditanyakannya itu adalah sebuah pepatah berbahasa Arab
yang samar-samar ia ingat namun lupa redaksi lengkapnya. Ustadz Ali Abbad lalu
menuliskan pepatah itu pada secarik kertas dan memberikannya kepada beliau.
Pepatah itulah yang kemudian disampaikan Ir. H.
Fadhloellah Moenawwar saat beliau memberi kata sambutan di hadapan kami. Dari
mulut beliaulah untuk pertama kalinya saya mendengar pepatah tersebut dan
alhamdulillah masih terekam kuat di ingatan sampai hari ini. Pepatah itu
berbunyi: Laisal Fataa Man Yaqulu Kaana Abi, Walaakinnal Fataa Man Yaquulu
Haa Ana Dza. Pemuda sejati itu bukanlah pemuda yang mengatakan “itu ayahku”
(membangga-banggakan kebesaran nama ayahnya). Pemuda sejati itu adalah dia yang
mengatakan “inilah aku” (bisa menunjukkan hasil karya sendiri). Nah, yang
sedikit ingin saya ceritakan dengan latar seperti itu adalah kata “Fataa”
pada pepatah tersebut.
Fataa seringkali
diterjemahkan “pemuda”. Sebuah terjemah yang kurang tepat, menurut Ustadz Budi
Ashari. Fataa sesungguhnya adalah rentang usia yang berada di bawah fase
Syabab. Jika Syabab kita terjemahkan pemuda, maka Fataa, dalam konteks
kekenian ialah mereka yang sering kita labeli dengan istilah “remaja”, sebuah
rentang usia antara 12-22 tahun atau tahap-tahap awal dari fase pemuda. Hanya
saja, kata remaja hari ini memiliki konotasi negatif di kepala kita sebagai
masa berhura-hura, berleha-leha, pembangkang, tawuran antar sekolah, full
musik, rock and roll, percintaan, gaya-gayaan, alay-alayan, dan
kesan-kesan negatif lainnya. Perspektif seperti ini 180 derajat bertentangan
dengan sudut pandang Al-Qur'an ketika berbicara tentang remaja/Fataa
yang hampir seluruhnya disebutkan dalam konteks pujian.
Kita tahu kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan dalam
Al-Qur'an. Kisah tentang sekelompok pemuda yang dengan teguh menjaga kemurnian
aqidah tauhidnya sampai rela harus bersembunyi di dalam gua. Kalau kita lihat,
ternyata Al-Qur'an menceritakan bahwa usia mereka saat itu adalah usia Fataa:
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ
فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا
رَشَدًا
(Ingatlah) tatkala FITYAH itu mencari tempat
berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah
rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang
lurus dalam urusan kami (ini)". (QS. Al-Kahfi: 10).
“Fityah” itu adalah bentuk plural dari kata Fataa.
Santri di pesantren menyebutnya Jama’ Taksir. Jadi, yang diceritakan
oleh Al-Qur'an tentang Ashabul Kahfi itu adalah mereka yang masih berusia Fataa/remaja
tapi dengan sangat luar biasa teguh menjaga keimanannya, tak mau terbawa-bawa
dengan rusaknya aqidah dan akhlak orang-orang di sekitarnya. Di sini Fataa
dipuji Al-Qur'an.
Kita juga tahu kisah heroik Nabi Ibrahim AS yang
menghancurkan patung-patung berhala sebagai bentuk perlawanan menentang
kemusyrikan. Ada yang tahu berapa umur Nabi Ibrahim saat itu? Ya, saat itu
beliau adalah seorang Fataa, remaja yang masih muda belia. Lihatlah
bagaimana Al-Qur'an menuturkan kecurigaan orang-orang musyrik kepada Nabi
Ibrahim ketika melihat berhala-berhala yang berserakan itu:
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ
يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang FATAA
yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim". (QS. Al-Anbiya: 60).
Sebetulnya masih banyak lagi ayat-ayat lain dalam
Al-Qur'an yang mengisahkan orang-orang terdahulu yang telah mengukir prestasi
gilang gemilang dalam usia yang masih Fataa ini. Misalnya, Nabi Yusuf AS
yang berhasil menjaga kehormatan dirinya saat dirayu berzina oleh istri Al-Ajiz
(QS. Yusuf: 30) atau kisah Daud muda yang mengalahkan Jalut dan tentu saja
kisah Musa yang amanah bekerja di bawah pengawasan Nabi Syuaib AS. Semuanya
terjadi dalam rentang usia Fataa.
Namun, yang paling menarik adalah apa yang disampaikan
oleh Imam Ibnu Katsir ketika menutup tafsirnya tentang kisah Ashabul Kahfi itu,
beliau mengatakan: “Oleh karena itu, kebanyakan orang yang menyambut dakwah
Rasulullah Saw adalah mereka yang berasal dari kalangan pemuda. Sedangkan para
orang tua dari kaum Quraisy, kebanyakan masih memegang agama mereka, tidak
memeluk Islam kecuali sedikit saja. Demikianlah Allah mengabarkan, bahwa mereka
itu adalah para pemuda”.
Pernyataan ini menjadi menarik karena disampaikan oleh
Imam Ibnu Katsir yang bukan hanya ahli tafsir tapi juga seorang sejarawan
muslim papan atas. Ingat karya beliau Al-Bidayah wa An-Nihayah sebuah
literatur sejarah yang tebalnya berjilid-jilid. Dengan kapasitas intelektual
tersebut beliau menyatakan bahwa mayoritas pengikut dakwah Rasulullah Saw
adalah para pemuda. Betulkah? Tentu saja betul.
Dari jajaran As-Sabiqunal Awwalun (generasi
pertama penyambut dakwah Rasul) ada sepuluh orang di antara mereka yang
mendapat jaminan surga, yaitu: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan,
Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin
Auf, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. (Lihat
Sunan At-Tirmizi Nomor hadis 3747). Dari kesepuluh orang tersebut saya
mendapatkan empat data usia mereka, sebagai berikut:
Pertama,
tidak ada seorang pun dari mereka yang usianya melebihi usia Nabi;
Kedua,
hanya tiga orang saja di antara mereka yang masuk Islam ketika usianya
berkepala tiga, yaitu: Abu Bakar (37 Th), Usman bin Affan (34 Th) dan
Abdurrahman bin Auf (30 Th);
Ketiga, dua
orang dari mereka, masuk Islam ketika berusia 27 tahun, yaitu: Umar bin Khattab
dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Keempat, sementara 5 orang sisanya, Subhanallah, masuk
Islam saat usianya masih di bawah 20 tahun, yaitu: Saad bin Abi Waqqash (17
Th), Zubair bin Awwam (16 Th), Said bin Zaid (15 Th), Thalhah bin Ubaidillah
(14 Th), dan Ali bin Abi Thalib (10 Th).
Keren, kan? “muda-muda dijamin surga”, jauh lebih
keren dari “ganteng-ganteng serigala”.
Di pundak para pemuda itulah tonggak pertama sejarah
peradaban Islam ditegakkan. Peradaban gilang gemilang yang kemudian menyinari
hampir tiga perempat muka bumi, selama berabad-abad. Merekalah generasi muda,
bahkan yang kita sebut remaja, yang telah menjadi pionir dakwah Islam sehingga
bisa mengepakkan sayapnya menembus laut mediterania, menelusuri gurun pasir
Afrika, merambah hutan-hutan Asia dan melahirkan generasi-generasi emas seperti
Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang melawan ribuan pasukan Romawi
(bukan tawuran antar kampung) pada usia 18 tahun, Imam Syafii yang sudah hafal
Alquran sejak usia 7 tahun dan mulai memberi fatwa saat berusia 15 tahun, Ibnu
Sina yang hafal Al-Qur'an usia 5 tahun dan mulai menjabat sebagai dokter khusus
istana pada usia 17 tahun, Umar bin Abdul Aziz yang menjadi gubernur Madinah
saat usia 23 tahun dan Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan benteng legendaris
Konstantinopel pada usia 24 tahun.
Nah... sekarang, berapa usiamu? Apa karyamu? [bz]
