Tafsir Al-Fatihah
Oleh: Drs. Hasim Ashari
Guru Tafsir MTs PERSIS 89 Bogor
Setelah
kita mengetahui makna Tafsir atau definisi Tafsir dalam majalah perdana..
Sekarang mari yuk ! menyimak bagaimana asyiknya para
ahli tafsir menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sehingga yang tadinya kita tidak
mengetahui maksud dari suatu ayat, akhirnya dengan izin Allah melalui keahlian
para mufasir dapat terbuka tabir yang dimaksud ayat-ayat al-Qur’an itu,
kemudian kita dapat memahaminya. Pemahaman al-Qur’an itu sangat penting, agar
al-Qur’an bisa menjadi pedoman hidup kita agar selamat dunia dan akhirat.
Mari kita sepakati saja untuk menyimak ayat al-Qur’an
dimulai dari ayat-ayat yang biasa kita baca dalam shalat dengan harapan dapat membantu
kekhusyuan dalam shalat. Kita mulai dari surat al-Fatihah…
Surat al-Fatihah itu disebut Ummu al-Qur’an (Induknya
al-Qur’an) begitu ahli tafsir menyebutkan tentang nama surat al-Fatihah.
Disamping itu ada nama-nama lain, yaitu Sab’u al-Matjani artinya “Tujuh
ayat yang diulang-ulang” , karena surat ini terdiri dari tujuh ayat yang dibaca
diulang-ulang dalam setiap rakaat shalat, ada lagi namanya seperti al-Asas
(dasar atau pondasi) karena surat ini merupakan pijakan untuk meraih
keselamatan dan kebahagiaan dunia – akhirat, dinamakan juga, Ash-Shalat
sebagaimana dinyatakan dalam hadist qudsi:
قَسِمْتُ الصَّلاَ ةَ بَيْنىِ وَبَيْنَ عَبْدِى
نِصِطَيْنِ
“Kami (Allah) membagi shalat (al-Fatihah) antara Kami dan
hamba kami menjadi dua bagian”
Para
ahli tafsir menafsirkan Lafadz Bismillah, bahwa huruf BA” pada lafadz itu
adalah huruf jar yang membutuhkan muta’allaq (hubungan atau pengumpama/, dimana
arti Bismillah (dengan nama Allah) tentu saja kalimat tersebut belum sempurna
kecuali kalau ditambah dengan kalimat “saya makan” misalnya, atau “saya
belanja” dan sebagainya. Jadi muallaqnya
tergantung perbuatan yang akan dilakukan.
Jadi
kalau mau membaca, misalnya “Saya membaca dengan nama Allah”.
Ahli tafsir yang lain seperti DR. Ad-Dahaby menyatakan
bahwa mu’allaqnya itu adalah lafadz Abtadi’i (saya memulai) yang berarti “Saya
memulai perbuatan ini dengan menyebut nama Allah, hal ini sesuai dengan sabda
Nabi SAW:
كُلُّ اَمْرٍدَى بَالٍ لاَيُبْدَ اُ فِيْهِ بِسْمِ اللهِ
فَهُوَ اَقْطَعُ
“Setiap urusan (perbuatan) yang tidak dimulai dengan
bismillah, maka cacat atau putus.”
(HR. Ahmad dan
Ashabu As sunan)
Hadist ini
meskipun dhoif, tapi dapat diamalkan.
Tidak
semua ibadah harus dimulai Bismillah, tergantung kepada apa yang telah
dicontohkan (Nabi SAW) seperti memulai shalat dengan Takbir, memulai umrah
dengan La illaha Allahumma ‘Umratan. Oleh karena itu tidak boleh memulai adzan dengan
bismillah.
Perbuatan-perbuatan
yang telah dicontohkan Nabi dengan seperti doa mau tidur:
بِا سْمِكَ اللَّهُمَّ اَحْيَا وَاَمُوْتُ
Jangan
di rubah dengan “Bismillah Allahumma Ahya wa Amut”. Itulah sebagian tafsir dari
sunnat al-Fatihah, ke depannya Insya Allah ayat-ayat selanjutnya disambungkan
lagi...