Study Sharing Rijalul Ghad - Ummahatul Ghad
PPI 14 Cisomang Bandung dengan PPI 89 Cibuluh Bogor
"Belajar dari pengalaman, Mengambil Hikmah dari Pelajaran"
Cisomang, 18 Maret 2016
Menyambut Gerhana Matahari 2016 Dengan Shalat Kusuf
Oleh :
Ruhiyat, M.Pd
Gerhana
matahari total adalah fenomena alam yang langka. Sepanjang 115 tahun terakhir.
Hanya sepuluh kali Indonesia dilintasi gerhana matahari total dan cuma sekali
melewati Pulau Jawa. Terakhir kali
terjadi pada 24 Oktober 1995 dan baru ada lagi pada 9 Maret 2016. Setelah 9 Maret 2016, gerhana matahari total
baru akan melintasi Indonesia lagi pada 20 April 2023. Saat itu gerhana
melintasi Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat.
Dalam
kurun waktu 2017 hingga 2100 tercatat hanya ada lima gerhana matahari total
melewati Indonesia.
Adapun
jalur gerhana matahari total (bayangan umbra bulan) di Indonesia akan melewati
Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangka Raya, Balik Papan, Palu, Poso,
Luwuk, Ternate, Halmahera. Adapun wilayah yang terkena gerhana matahari
sebagian (penumbra) yaitu Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak,
Denpasar, Banjarmasin, Makasar, Kupang, Manado dan Ambon. Kejadian gerhana
sebagian untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya (Bogor) dimulai dari pukul 06.19
WIB, puncak gerhana pukul 07.21 WIB dan berakhir 08.31 WIB.
Peristiwa
gerhana pun sebenarnya pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad (di Madinah) hanya
satu kali ialah pada tahun ke sepuluh hijriyah, pada hari meninggalnya Ibrahim
putra Nabi. Menurut perhitungan ahli hisab, itu terjadi pada tanggal 29 Syawal
bertepatan dengan tanggal 27 Januari tahun 632 M pukul 08.30. Demikian menurut
Muhammad Fasya al Falaqi dalam kitabnya, Nataij al Afham Fi Taqwim al ‘Arab
Qabla al Islam (al Fathu ar Rabbani, 6:175).
Adapun
yang dicontohkan oleh Nabi berkenaan dengan peristiwa gerhana ini dianjurkan
untuk shadaqah, berdo’a, takbir dan shalat. Hal ini dijelaskan dalam hadits
Bukhari Muslim, Nailul al-Authar, 3:379 “Dari ‘Aisyah r.a. Sesungguhnya Nabi
SAW telah bersabda : “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda diantara
tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak akan terjadi gerhana disebabkan
mati atau lahirnya seseorang. Maka apabila kamu melihat kejadian itu, berdo’alah
kepada Allah, bertakbirlah, bershadaqahlah dan shalatlah”.
Adapun
cara praktik shalat gerhana dijelaskan dalam beberapa hadits diantaranya, yaitu
:
1. Dari ‘Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW mengeraskan bacaannya dalam shalat
gerhana. Nabi shalat dua raka’at dalam empat kali ruku dan empat kali sujud
(H.R. Bukhari Muslim, Nailul al-Authar 3:376).
2. Dari ‘Aisyah r.a. ia berkata : “Telah terjadi gerhana matahari di zaman
Rasulullah SAW, kemudian Nabi menyuruh seorang muadzdzin (menyerukan);
ASH-SHALAATU JAAMI’AH, lalu Nabi berdiri dan shalat dengan empat kali ruku dan
empat kali sujud dalam dua raka’at.” (H.R. Bukhari Muslim; Nailu al-Authar,
3:369).
3. Dari ‘Aisyah r.a. ia berkata : “Telah terjadi gerhana matahari pada
masa hidup Nabi, lalu Nabi keluar ke masjid, kemudian berdiri, lalu takbir.
Orang-orang berbaris di belakang Nabi, kemudian Nabi berdiri dan berkhutbah,
Nabi memuji Allah –sebagaimana mestinya- lalu
Nabi bersabda : “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda
dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tak akan terjadi gerhana karena
kematian atau kelahiran seseorang. Maka bilamana kamu melihat gerhana,
segeralah melaksanakan shalat.” (H.R. Bukhari Muslim, Nailu al-Authar, 3: 369).
Dari
keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa jika terjadi gerhana, baik
gerhana matahari atau gerhana bulan, dianjurkan untuk :
1. Berdo’a kepada Allah dengan penuh rasa takut dan rasa harap.
2. Bertakbir. Dan diantara lafazh takbir itu ialah sebagaimana dalam
takbir ‘ied al-Fithri (ALLAAHU AKBARU, ALLAAHU AKBARU, LAA ILAAHA ILLA ALLAAHU
WA ALLAAHU AKBARU ALLAAHU AKBARU WA LILLAAHI AL HAMDU).
3. Bersedekah, karena diantara hikmah sedekah itu dapat menolak bencana.
4. Melakukan shalat gerhana dan dilanjutkan dengan khutbah satu kali
khutbah.
5. Untuk memulai shalat, tidak ada qamat, tetapi dengan ucapan ASH
SHALAATU JAAMI’AH.
6. Hindari kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang sehubungan dengan
kejadian gerhana, seperti memandikan orang yang sedang hamil (karena takut
anaknya hitam) atau memukuli lisung (tempat menumbuk padi) dan lain-lain.
Sumber bacaan :
1. Alhidayah edisi kompilasi Pembahasan Perbedaan-perbedaan Pendapat dalam
Fiqh beserta Pemecahannya, karangan A. Zakaria.
2. http://news.detik.com/infografis/3117578/waktu-gerhana-matahari-sebagian-di-indonesia.
Tafsir #2
Tafsir Al-Fatihah
Oleh: Drs. Hasim Ashari
Guru Tafsir MTs PERSIS 89 Bogor
Setelah
kita mengetahui makna Tafsir atau definisi Tafsir dalam majalah perdana..
Sekarang mari yuk ! menyimak bagaimana asyiknya para
ahli tafsir menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sehingga yang tadinya kita tidak
mengetahui maksud dari suatu ayat, akhirnya dengan izin Allah melalui keahlian
para mufasir dapat terbuka tabir yang dimaksud ayat-ayat al-Qur’an itu,
kemudian kita dapat memahaminya. Pemahaman al-Qur’an itu sangat penting, agar
al-Qur’an bisa menjadi pedoman hidup kita agar selamat dunia dan akhirat.
Mari kita sepakati saja untuk menyimak ayat al-Qur’an
dimulai dari ayat-ayat yang biasa kita baca dalam shalat dengan harapan dapat membantu
kekhusyuan dalam shalat. Kita mulai dari surat al-Fatihah…
Surat al-Fatihah itu disebut Ummu al-Qur’an (Induknya
al-Qur’an) begitu ahli tafsir menyebutkan tentang nama surat al-Fatihah.
Disamping itu ada nama-nama lain, yaitu Sab’u al-Matjani artinya “Tujuh
ayat yang diulang-ulang” , karena surat ini terdiri dari tujuh ayat yang dibaca
diulang-ulang dalam setiap rakaat shalat, ada lagi namanya seperti al-Asas
(dasar atau pondasi) karena surat ini merupakan pijakan untuk meraih
keselamatan dan kebahagiaan dunia – akhirat, dinamakan juga, Ash-Shalat
sebagaimana dinyatakan dalam hadist qudsi:
قَسِمْتُ الصَّلاَ ةَ بَيْنىِ وَبَيْنَ عَبْدِى
نِصِطَيْنِ
“Kami (Allah) membagi shalat (al-Fatihah) antara Kami dan
hamba kami menjadi dua bagian”
Para
ahli tafsir menafsirkan Lafadz Bismillah, bahwa huruf BA” pada lafadz itu
adalah huruf jar yang membutuhkan muta’allaq (hubungan atau pengumpama/, dimana
arti Bismillah (dengan nama Allah) tentu saja kalimat tersebut belum sempurna
kecuali kalau ditambah dengan kalimat “saya makan” misalnya, atau “saya
belanja” dan sebagainya. Jadi muallaqnya
tergantung perbuatan yang akan dilakukan.
Jadi
kalau mau membaca, misalnya “Saya membaca dengan nama Allah”.
Ahli tafsir yang lain seperti DR. Ad-Dahaby menyatakan
bahwa mu’allaqnya itu adalah lafadz Abtadi’i (saya memulai) yang berarti “Saya
memulai perbuatan ini dengan menyebut nama Allah, hal ini sesuai dengan sabda
Nabi SAW:
كُلُّ اَمْرٍدَى بَالٍ لاَيُبْدَ اُ فِيْهِ بِسْمِ اللهِ
فَهُوَ اَقْطَعُ
“Setiap urusan (perbuatan) yang tidak dimulai dengan
bismillah, maka cacat atau putus.”
(HR. Ahmad dan
Ashabu As sunan)
Hadist ini
meskipun dhoif, tapi dapat diamalkan.
Tidak
semua ibadah harus dimulai Bismillah, tergantung kepada apa yang telah
dicontohkan (Nabi SAW) seperti memulai shalat dengan Takbir, memulai umrah
dengan La illaha Allahumma ‘Umratan. Oleh karena itu tidak boleh memulai adzan dengan
bismillah.
Perbuatan-perbuatan
yang telah dicontohkan Nabi dengan seperti doa mau tidur:
بِا سْمِكَ اللَّهُمَّ اَحْيَا وَاَمُوْتُ
Jangan
di rubah dengan “Bismillah Allahumma Ahya wa Amut”. Itulah sebagian tafsir dari
sunnat al-Fatihah, ke depannya Insya Allah ayat-ayat selanjutnya disambungkan
lagi...
Ssst...! Ini Ramuan Khusus 20 Tahun Ke Bawah
Oleh: Ust. Didin Rohaedin
Lima belas tahun yang lalu, pada saat acara pembagian
raport di pesantren, salah seorang wali santri bertanya kepada guru kami,
Ustadz Ali Abbad. Wali santri itu ialah Ir. H. Fadhloellah Moenawwar, anak
sulung KH. Moenawwar Chalil, penulis buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad
Saw. Adapun yang ditanyakannya itu adalah sebuah pepatah berbahasa Arab
yang samar-samar ia ingat namun lupa redaksi lengkapnya. Ustadz Ali Abbad lalu
menuliskan pepatah itu pada secarik kertas dan memberikannya kepada beliau.
Pepatah itulah yang kemudian disampaikan Ir. H.
Fadhloellah Moenawwar saat beliau memberi kata sambutan di hadapan kami. Dari
mulut beliaulah untuk pertama kalinya saya mendengar pepatah tersebut dan
alhamdulillah masih terekam kuat di ingatan sampai hari ini. Pepatah itu
berbunyi: Laisal Fataa Man Yaqulu Kaana Abi, Walaakinnal Fataa Man Yaquulu
Haa Ana Dza. Pemuda sejati itu bukanlah pemuda yang mengatakan “itu ayahku”
(membangga-banggakan kebesaran nama ayahnya). Pemuda sejati itu adalah dia yang
mengatakan “inilah aku” (bisa menunjukkan hasil karya sendiri). Nah, yang
sedikit ingin saya ceritakan dengan latar seperti itu adalah kata “Fataa”
pada pepatah tersebut.
Fataa seringkali
diterjemahkan “pemuda”. Sebuah terjemah yang kurang tepat, menurut Ustadz Budi
Ashari. Fataa sesungguhnya adalah rentang usia yang berada di bawah fase
Syabab. Jika Syabab kita terjemahkan pemuda, maka Fataa, dalam konteks
kekenian ialah mereka yang sering kita labeli dengan istilah “remaja”, sebuah
rentang usia antara 12-22 tahun atau tahap-tahap awal dari fase pemuda. Hanya
saja, kata remaja hari ini memiliki konotasi negatif di kepala kita sebagai
masa berhura-hura, berleha-leha, pembangkang, tawuran antar sekolah, full
musik, rock and roll, percintaan, gaya-gayaan, alay-alayan, dan
kesan-kesan negatif lainnya. Perspektif seperti ini 180 derajat bertentangan
dengan sudut pandang Al-Qur'an ketika berbicara tentang remaja/Fataa
yang hampir seluruhnya disebutkan dalam konteks pujian.
Kita tahu kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan dalam
Al-Qur'an. Kisah tentang sekelompok pemuda yang dengan teguh menjaga kemurnian
aqidah tauhidnya sampai rela harus bersembunyi di dalam gua. Kalau kita lihat,
ternyata Al-Qur'an menceritakan bahwa usia mereka saat itu adalah usia Fataa:
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ
فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا
رَشَدًا
(Ingatlah) tatkala FITYAH itu mencari tempat
berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah
rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang
lurus dalam urusan kami (ini)". (QS. Al-Kahfi: 10).
“Fityah” itu adalah bentuk plural dari kata Fataa.
Santri di pesantren menyebutnya Jama’ Taksir. Jadi, yang diceritakan
oleh Al-Qur'an tentang Ashabul Kahfi itu adalah mereka yang masih berusia Fataa/remaja
tapi dengan sangat luar biasa teguh menjaga keimanannya, tak mau terbawa-bawa
dengan rusaknya aqidah dan akhlak orang-orang di sekitarnya. Di sini Fataa
dipuji Al-Qur'an.
Kita juga tahu kisah heroik Nabi Ibrahim AS yang
menghancurkan patung-patung berhala sebagai bentuk perlawanan menentang
kemusyrikan. Ada yang tahu berapa umur Nabi Ibrahim saat itu? Ya, saat itu
beliau adalah seorang Fataa, remaja yang masih muda belia. Lihatlah
bagaimana Al-Qur'an menuturkan kecurigaan orang-orang musyrik kepada Nabi
Ibrahim ketika melihat berhala-berhala yang berserakan itu:
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ
يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang FATAA
yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim". (QS. Al-Anbiya: 60).
Sebetulnya masih banyak lagi ayat-ayat lain dalam
Al-Qur'an yang mengisahkan orang-orang terdahulu yang telah mengukir prestasi
gilang gemilang dalam usia yang masih Fataa ini. Misalnya, Nabi Yusuf AS
yang berhasil menjaga kehormatan dirinya saat dirayu berzina oleh istri Al-Ajiz
(QS. Yusuf: 30) atau kisah Daud muda yang mengalahkan Jalut dan tentu saja
kisah Musa yang amanah bekerja di bawah pengawasan Nabi Syuaib AS. Semuanya
terjadi dalam rentang usia Fataa.
Namun, yang paling menarik adalah apa yang disampaikan
oleh Imam Ibnu Katsir ketika menutup tafsirnya tentang kisah Ashabul Kahfi itu,
beliau mengatakan: “Oleh karena itu, kebanyakan orang yang menyambut dakwah
Rasulullah Saw adalah mereka yang berasal dari kalangan pemuda. Sedangkan para
orang tua dari kaum Quraisy, kebanyakan masih memegang agama mereka, tidak
memeluk Islam kecuali sedikit saja. Demikianlah Allah mengabarkan, bahwa mereka
itu adalah para pemuda”.
Pernyataan ini menjadi menarik karena disampaikan oleh
Imam Ibnu Katsir yang bukan hanya ahli tafsir tapi juga seorang sejarawan
muslim papan atas. Ingat karya beliau Al-Bidayah wa An-Nihayah sebuah
literatur sejarah yang tebalnya berjilid-jilid. Dengan kapasitas intelektual
tersebut beliau menyatakan bahwa mayoritas pengikut dakwah Rasulullah Saw
adalah para pemuda. Betulkah? Tentu saja betul.
Dari jajaran As-Sabiqunal Awwalun (generasi
pertama penyambut dakwah Rasul) ada sepuluh orang di antara mereka yang
mendapat jaminan surga, yaitu: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan,
Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin
Auf, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. (Lihat
Sunan At-Tirmizi Nomor hadis 3747). Dari kesepuluh orang tersebut saya
mendapatkan empat data usia mereka, sebagai berikut:
Pertama,
tidak ada seorang pun dari mereka yang usianya melebihi usia Nabi;
Kedua,
hanya tiga orang saja di antara mereka yang masuk Islam ketika usianya
berkepala tiga, yaitu: Abu Bakar (37 Th), Usman bin Affan (34 Th) dan
Abdurrahman bin Auf (30 Th);
Ketiga, dua
orang dari mereka, masuk Islam ketika berusia 27 tahun, yaitu: Umar bin Khattab
dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Keempat, sementara 5 orang sisanya, Subhanallah, masuk
Islam saat usianya masih di bawah 20 tahun, yaitu: Saad bin Abi Waqqash (17
Th), Zubair bin Awwam (16 Th), Said bin Zaid (15 Th), Thalhah bin Ubaidillah
(14 Th), dan Ali bin Abi Thalib (10 Th).
Keren, kan? “muda-muda dijamin surga”, jauh lebih
keren dari “ganteng-ganteng serigala”.
Di pundak para pemuda itulah tonggak pertama sejarah
peradaban Islam ditegakkan. Peradaban gilang gemilang yang kemudian menyinari
hampir tiga perempat muka bumi, selama berabad-abad. Merekalah generasi muda,
bahkan yang kita sebut remaja, yang telah menjadi pionir dakwah Islam sehingga
bisa mengepakkan sayapnya menembus laut mediterania, menelusuri gurun pasir
Afrika, merambah hutan-hutan Asia dan melahirkan generasi-generasi emas seperti
Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang melawan ribuan pasukan Romawi
(bukan tawuran antar kampung) pada usia 18 tahun, Imam Syafii yang sudah hafal
Alquran sejak usia 7 tahun dan mulai memberi fatwa saat berusia 15 tahun, Ibnu
Sina yang hafal Al-Qur'an usia 5 tahun dan mulai menjabat sebagai dokter khusus
istana pada usia 17 tahun, Umar bin Abdul Aziz yang menjadi gubernur Madinah
saat usia 23 tahun dan Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan benteng legendaris
Konstantinopel pada usia 24 tahun.
Nah... sekarang, berapa usiamu? Apa karyamu? [bz]
Langganan:
Komentar (Atom)


























